
Focusitm.news | Batam-Proyek Dayone Nongsa kini bukan lagi proyek pembangunan. Ia berubah menjadi medan badai, pusaran kekacauan, dan simbol paling brutal bagaimana kontraktor lokal bisa tergilas oleh dugaan tekanan yang menyesakkan.

Kontraktor lokal diduga tidak hanya dirugikan — tetapi dipaksa, ditekan, dan dibungkam dengan perjanjian yang dianggap menjerat.
“Kami dipaksa tanda tangan. Hak kami dipreteli. Somasi kami disapu bersih seolah kami ini debu,” tegas kontraktor—kalimat yang meledak seperti pukulan keras di wajah proyek ini.
Bahkan seorang pengacara menyebut adanya manuver hukum balik yang patut diduga sebagai tekanan psikologis. Langkah yang membuat publik bertanya: Apakah proyek ini dikelola dengan etika, atau dengan tekanan?

Gelombang Dugaan Manipulasi Menghantam KEK Nongsa — Publik Menilai Baunya Terlalu Menyengat untuk Dianggap Wajar
Indikasi praktik tak sehat di proyek ini kini berubah menjadi gelombang besar yang menyapu habis citra KEK Nongsa.
Dugaan:
Semua itu membuat publik menyimpulkan satu hal:
Ada yang sangat tidak beres.
Ada yang sangat janggal.
Ada yang sangat kelam.
Angka Miliaran Tumbang Secara Drastis: Proyek Rp5,65 Miliar Dipangkas Hingga Tinggal Serpihan
Dokumen yang diterima redaksi menunjukkan pemangkasan nilai proyek dari Rp5,65 miliar terseret turun ke Rp2,4 miliar — pemotongan yang dinilai kontraktor sebagai pemenggalan sepihak.
Empat titik paling menghantam:
1. Retensi Rp250 juta menguap tanpa kejelasan.
2. Pekerjaan senilai Rp1,5 miliar tidak dibayar.
3. Pekerjaan tambahan dihargai seperti upah recehan.
4. Standby alat berat Rp1,2 miliar yang telah disepakati—diabaikan.
Kontraktor menggambarkan pola penanganan tagihan sebagai—
penghindaran, pembelokan, dan permainan waktu.
“Kami menuntut hak. Mereka justru memutar cerita. Kami tidak diam lagi,” cetus kontraktor—kalimat yang menghantam keras.
BP Batam & Pengelola KEK Nongsa: Diam yang Terlalu Gelap, Terlalu Panjang, Terlalu Menyakitkan
Inilah pusat kemarahan terbesar publik.
Semua laporan masuk.
Fakta-fakta disampaikan.
Kontraktor berteriak meminta keadilan.
Namun respons BP Batam dan pengelola KEK Nongsa sejauh ini:
– sunyi, – gelap, – beku, – kosong, – tanpa gerak, – tanpa suara, – tanpa tanda bahwa laporan itu benar-benar pernah dibuka.
Diam seperti ini bagi publik bukan hanya aneh —
tetapi mengguncang.
Pertanyaan-pertanyaan kini menusuk seperti palu:
Apa yang sedang dijaga?
Mengapa laporan resmi tak ditindak?
Apakah kontraktor lokal harus dibiarkan terluka tanpa perlindungan?
Apakah investor asing begitu istimewa sampai pengawasan pun ikut mati?
Kemurkaan Publik Melonjak: Tuntutan Kini Bukan Lagi Permintaan — Tapi Ultimatum Moral
Hingga laporan ini diterbitkan:
Keduanya tetap diam.
Dan diam itu kini berubah menjadi bensin yang menyulut kemarahan masyarakat.
Publik mengibarkan tuntutan:
1. Kembalikan hak kontraktor lokal — penuh, jelas, tanpa tipu muslihat.
2. Audit menyeluruh dan transparan — tanpa kompromi.
3. Tindakan nyata terhadap siapa pun yang membiarkan kekacauan ini membesar.
Jika pembiaran seperti ini terus berlangsung, Batam tidak sedang membangun masa depan — Batam sedang menggali lubang reputasinya sendiri. (Nda)

Tidak ada komentar