
Focusitm.news| Program ini bertujuan untuk memperbaiki gizi siswa, pelaksanaannya justru membuka ruang evaluasi terkait efektivitas distribusi, tingkat konsumsi makanan, serta dampaknya terhadap proses belajar mengajar.

Salah satu sekolah yang disorot adalah SMA Negeri 3 Batam. Selama program berjalan, pihak sekolah menemukan bahwa setiap hari masih banyak makanan yang tidak dihabiskan siswa. Kondisi ini dinilai perlu menjadi perhatian agar program tidak berujung pada pemborosan anggaran. Hal ini mendorong pandangan bahwa dana MBG sebaiknya dialihkan ke siswa yang benar-benar membutuhkan bantuan ekonomi atau untuk penguatan fasilitas pendidikan.
Selain masalah sisa makanan, sekolah juga menyoroti dampak operasional terhadap kegiatan belajar. Dengan jumlah siswa sekitar 1.700 orang, proses pembagian makanan setiap hari memerlukan keterlibatan tenaga pendidik. Pihak sekolah menilai hal ini cukup menyita waktu dan mengurangi efektivitas kegiatan akademik.
Pelaksanaan MBG juga berdampak pada aktivitas ekonomi sekolah. Sejumlah pedagang kantin mengalami penurunan omzet karena sebagian besar siswa lebih memilih makanan dari program pemerintah. Meski demikian, pihak sekolah masih menunggu kepastian terkait rencana pelibatan kantin dalam pengelolaan MBG, yang sedang dibahas pemerintah. Menurut sekolah, mekanisme ini perlu dikaji matang agar menguntungkan semua pihak tanpa mengurangi kualitas gizi siswa.

Di tengah kritik, sebagian siswa justru merasakan manfaat langsung. Embun Gardina Rahim, siswi kelas XI di Batam, mengaku program ini membantu memenuhi kebutuhan makan siang di sekolah. Ia mengatakan MBG membuat siswa tak perlu memikirkan biaya makan saat belajar. Setelah program dihentikan sementara, sebagian besar siswa kembali membawa bekal atau membeli makanan di kantin. Ia berharap program dilanjutkan dengan perbaikan. “Program ini membantu siswa dan membuat kami lebih fokus mengikuti pelajaran,” katanya.
Dari sisi orang tua, Merliana, wali murid SD di Batam, mengaku penghentian atau keberlanjutan MBG tidak terlalu memengaruhi kebiasaan keluarganya karena anaknya selalu dibekali makanan. Ia menilai kualitas layanan dan waktu distribusi perlu disesuaikan dengan kebutuhan siswa. Ia berharap pemerintah terus mengevaluasi anggaran agar tepat sasaran. “Bila ada penyesuaian anggaran, saya berharap tetap diarahkan untuk kebutuhan pendidikan dan masyarakat yang benar-benar membutuhkan,” ujarnya.
Hingga kini, sekolah penerima manfaat di Batam masih menunggu keputusan pemerintah tentang kelanjutan MBG. Perdebatan menunjukkan program ini memiliki dua sisi: membantu gizi siswa, namun perlu penyempurnaan agar lebih efektif, tepat sasaran, dan tidak boros. Evaluasi menyeluruh terhadap distribusi, kualitas makanan, dan mekanisme pelaksanaan menjadi kunci agar program ini bisa berjalan lebih optimal ke depannya. (FM)

Tidak ada komentar